KITA BUKAN NABI NUH. ANAK KITA BUKAN KAN’AN.
Ada masa ketika menjadi kader PKS terasa seperti panggilan hidup. Ia bukan sekadar pilihan politik, tapi jalan hidup yang menuntun ritme keseharian. Dari cara seseorang berdoa, bekerja, hingga menatap masa depan.
Namun, zaman berubah. Anak-anak para kader tumbuh dalam lanskap sosial yang berbeda: dunia digital, identitas cair, dan nilai-nilai yang semakin beragam. Di sinilah muncul fenomena baru: anak-anak kader yang tidak lagi otomatis menjadi “anak ideologis”. Anak – anak yang tidak tumbuh seperti ayah dan ibunya dahulu, yang gigih dalam perjuangan dakwah.
“Toh anak Nabi Nuh juga tidak ikut kapal yang dibangun ayahnya”, ucap beberapa kawan melihat fenomena ini. Tapi nanti dulu. Kita tentu ingin anak-anak kita tumbuh bersama dalam keimanan dan ketaqwaan. Kalau bisa menjadi seorang ayah seperti Nabi Ibrahim dan ibu seperti Siti Hajar atau Siti Sarah; yang melahirkan putra seperti Nabi Ismail dan Nabi Ishaq; mengapa merujuk kepada Nabi Nuh?
Dulu, ideologi diturunkan lewat keteladanan yang kuat. Ayahnya bangun qiyamullail dan lanjut shalat subuh ke masjid. Ibunya aktif berdakwah di berbagai majelis taklim. Rumah dipenuhi buku-buku dakwah. Ideologi hadir dalam suasana, bukan semata ceramah. Tapi hari ini, suasana itu pecah oleh notifikasi ponsel, oleh Netflix dan YouTube, oleh TikTok yang setiap menitnya menawarkan tafsir baru tentang dunia.
Fenomena “anak biologis tapi bukan anak ideologis” sebenarnya bukan hanya milik PKS. Ia terjadi pada banyak organisasi yang berakar ideologi kuat. Dari Muhammadiyah hingga Nahdlatul Ulama, dari partai berbasis nasionalis hingga sosialis. Semua merasakannya.
Generasi kedua sering kali tidak mengalami “romantisme perjuangan” yang dialami orang tuanya. Mereka lahir di masa ketika organisasi sudah mapan, bukan lagi fase perjuangan bawah tanah yang penuh risiko dan idealisme.
Anak-anak ini tumbuh di rumah-rumah nyaman, bukan di kontrakan sempit tempat ayah mereka dulu merintis pengajian. Mereka tumbuh dengan kemudahan: pendidikan bagus, gawai mahal, dan akses luas ke dunia global. Maka, pengalaman heroik generasi pertama terasa jauh, kadang malah asing.
Rhenald Kasali pernah menulis tentang “disruption”. Perubahan besar yang mengguncang tatanan lama dan memaksa kita beradaptasi. Dalam konteks kaderisasi, disruption ini bukan sekadar soal teknologi, tapi juga makna. Apa makna “berjuang” di era yang semua serba instan? Apa makna “amanah” di tengah budaya viral dan konten cepat lupa?
Anak-anak kader PKS tumbuh dalam masyarakat yang lebih terbuka, lebih egaliter. Mereka melihat dunia dari kaca mata yang tak lagi hitam-putih. Bagi sebagian dari mereka, identitas politik orang tua terasa terlalu kaku, terlalu penuh batas. Sementara mereka sendiri ingin hidup “lebih cair”, lebih bebas berekspresi tanpa harus selalu dikaitkan dengan partai atau jamaah.
Namun, di sisi lain, ada juga anak-anak yang justru mencari kembali makna yang dulu dibangun orang tuanya. Mereka tidak menolak ideologi, tapi ingin memahaminya dengan bahasa baru. Mereka ingin Islam yang ramah, terbuka, relevan dengan isu lingkungan, keadilan gender, atau ekonomi kreatif. Mungkin mereka tidak hadir di halaqah tiap pekan, tapi mereka ikut menginisiasi gerakan sosial di kampus, komunitas literasi, atau startup syariah.
Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa “ideologi adalah sesuatu yang dihidupi, bukan dihafalkan.” Kalimat itu menggambarkan pergeseran zaman. Generasi baru tak suka digurui. Mereka ingin menemukan ideologi lewat pengalaman, bukan doktrin. Dan di sinilah tantangan kaderisasi: bagaimana mengubah nilai lama menjadi bahasa yang hidup di dunia baru.
Kaderisasi tidak bisa lagi hanya berupa hafalan ayat dan murajaah materi. Ia harus menjadi pengalaman eksistensial; tentang bagaimana Islam menjawab keresahan zaman. Tentang bagaimana nilai “amanah” bisa diterjemahkan dalam manajemen startup. Tentang bagaimana “ukhuwah” hadir dalam kolaborasi lintas komunitas.
Kalau dulu ideologi diwariskan secara vertikal, kini ia harus dibangun secara horizontal. Orang tua bukan lagi sumber kebenaran tunggal, melainkan mitra dialog. Hubungan kaderisasi tak lagi satu arah. Ia seperti ekosistem: saling memengaruhi, saling menumbuhkan. Di sinilah peran keluarga kader berubah, dari guru menjadi teman bertumbuh.
Mungkin kita perlu menerima kenyataan bahwa anak-anak kader bukan harus menjadi salinan orang tuanya. Mereka boleh berbeda, bahkan mungkin harus berbeda. Karena ideologi yang sejati bukanlah ketaatan buta, tapi kesadaran yang tumbuh dari pilihan. Dan pilihan hanya bisa muncul kalau ada ruang untuk bertanya.
Fenomena ini juga memperlihatkan satu hal: bahwa organisasi berbasis nilai perlu meng-update cara mereka menanamkan nilai. Seperti PKS yang dikenal punya warisan ideologis yang kuat, perlu cara baru untuk membuat nilai itu terasa relevan di zaman yang cepat berubah. Tidak cukup lagi dengan sekedar usrah dan mutaba’ah; tapi perlu juga dengan dialog lintas generasi dan pendekatan kultural.
Kaderisasi generasi baru tidak bisa hanya mengandalkan narasi “masa lalu”. Ia harus menjawab pertanyaan “apa makna dakwah hari ini?”. Bagi anak muda, dakwah mungkin bukan lagi sekadar liqo dan tabligh akbar, tapi juga konten kreatif, aksi sosial, atau inovasi ekonomi. Dan semua itu tetap bisa berakar pada nilai Islam; kalau diberi ruang.
Bisa jadi, anak-anak kader tidak hadir di struktur partai, tapi mereka hadir dalam ruang-ruang lain yang juga penting. Komunitas, gerakan sosial, start up bisnis hingga lembaga pemerintahan. Mereka membangun jejaring baru yang mungkin lebih luas daripada sekadar lingkaran kader. Di situlah sebenarnya nilai dakwah itu berekspansi. Keluar dari ruang formal menuju ruang sosial.
Menariknya, beberapa penelitian tentang “transmisi nilai keluarga” menunjukkan bahwa anak akan lebih mudah mewarisi nilai ketika nilai itu dihidupi secara otentik, bukan dipaksakan. Artinya, kalau orang tua jujur dalam perjuangannya, anak akan menangkap semangat itu; meski bentuk perjuangannya nanti berbeda.
Jadi, mungkin kita tak perlu terlalu resah kalau anak-anak kader tidak menjadi “versi lama” dari orang tuanya. Mungkin justru di situlah regenerasi sejati terjadi: ketika nilai lama menemukan bentuk barunya. Seperti sungai yang tetap berasal dari mata air yang sama, tapi mengalir melalui jalur baru.
Kita sering lupa bahwa zaman selalu punya bahasanya sendiri. Kalau dulu bahasa perjuangan adalah kesabaran dan pengorbanan, kini bahasa perjuangan mungkin adalah kreativitas dan kolaborasi. Nilai dasarnya sama, hanya mediumnya yang berubah. Dan anak-anak ideologis baru itu sedang mencari cara mereka sendiri untuk berbicara kepada dunia.
Barangkali, tugas kita bukan memastikan mereka menjadi kader seperti kita dulu, tapi memastikan mereka tetap punya kompas moral yang sama. Bahwa mereka tetap mencintai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Walau dengan gaya yang berbeda. Itulah makna sejati dari kaderisasi lintas zaman.
Dan jika kita mampu menerima itu dengan lapang, mungkin kita akan menemukan bahwa “anak ideologis” tidak selalu lahir dari doktrin, tapi dari ketulusan dan keaslian nilai yang kita hidupkan setiap hari.
Afwan Riyadi
Ayah dari 3 orang anak kader
Mentor dari 10 orang anak kader
