Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Badai Pasti Berlalu, Hancurnya Qaramithah dan lembar baru sejarah umat Islam

Badai Pasti Berlalu
Hancurnya Qaramithah dan lembar baru sejarah umat Islam

By GenSaladin

Di post sebelumnya, kami mengajak teman-teman semuanya untuk sama-sama kaget, sama-sama dibuat tercekat dengan fakta mengerikan tentang Qaramithah. Kelompok penebar teror yang lahir di saat umat Islam sedang sakit parah kala itu, sebab penguasa sebenarnya saat itu bukanlah kekhalifahan Abbasiyah, melainkan orang-orang Syi'ah yang berakidah salah. Hal ini secara detail bisa teman-teman baca di buku Lost Islamic Victory.

Qaramithah sendiri muncul sebagai kekuatan besar pada tahun 899, mereka berbuat onar sehingga ada masanya haji terganggu bahkan nyaris terhenti selama 10 tahun. Hajar Aswad mereka curi selama 22 tahun, dilengkapi dengan memerintah rakyat yang mereka kuasai untuk berhaji ke Qathif, bukan ke Makkah Al Mukarramah. Saat itu pemimpin-pemimpin umat ada yang berusaha mengembalikan hajar Aswad ke tempatnya. Ada yang menggunakan jalan militer, ada pula yang merogoh kas yang besar agar Qaramithah mau mengembalikannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis, "adapun Qaramithah, sesungguhnya mereka membangun agama mereka dengan pondasi keyakinan penyembah api dan juga dari para pengikut Saba'iyyah." Awalnya mereka memulai ajakan keonarannya di Kufah, namun mereka kalah karena saat itu kekuatan Khalifah sangat kuat dan umat sedang kokoh. Namun, ketika kekhalifahan melemah, Qaramithah akhirnya bangkit. Mereka terang-terangan mengajak orang pada pemahaman yang salah sejak tahun 892, di era Khalifah Al Mu'tamid Alallah. Target mereka adalah orang-orang bodoh, pemuja hawa nafsu, perampok hingga pemilik orientasi seksual menyimpang.

Menariknya, justru kehancuran Qaramithah diawali oleh konflik internal di antara mereka sendiri. Pada tahun 938 (sekitar 39 tahun setelah kemunculan Qaramithah) terjadi percekcokan kepemimpinan di antara mereka. Ibnu Atsir menuliskannya sebagai berikut, "di tahun tersebut, kedigdayaan Qaramithah mulai tumbang, sebagian kelompok mereka memerangi sebagian yang lain." Mereka pun berperang juga dengan negara Syi'ah Fathimiyah. Memang kacau sekali keadaannya, sampai-sampai orang Syi'ah pun tidak mengakui Qaramithah saking sesatnya.

Setelah konflik itulah, kaum muslimin memanfaatkan situasi untuk bisa berhaji ke Baitullah. Meski begitu, mereka tetap harus membayar upeti pada kelompok teror ini agar bisa melewati rute haji. Ibnu Jauzi mengisahkan dalam Al Muntadzam, "untuk setiap unta yang lewat, harus membayar 5 Dinar emas, dan bagi unta yang membawa barang-barang, dikenai biaya 7 Dinar emas." Keadaan ini menggambarkan betapa tidak berdayanya kekhalifahan Abbasiyah kala itu.

Sebenarnya di tahun-tahun setelahnya, Qaramithah masih berbuat onar dengan mengacaukan kota-kota besar seperti Bashrah, Kufah, namun semakin hari kekuatan mereka semakin menciut. Pada akhirnya, sekte sesat Qaramithah ini hancur di tangan seorang jendral Seljuk bernama Artuk Beg pada tahun 1086 Masehi. Kala itu, Kesultanan Seljuk adalah negara Islam Ahlussunah terkuat yang ada, yang mendapatkan kehormatan pula dari kekhalifahan Abbasiyah. Qaramithah berakhir di sebuah kota bernama Al Ahsa, Bahrain.

Meski secara organisasi mereka telah dihancurkan, pendukung kelompok Qaramithah masih melakukan aksi-aksi jahatnya di wilayah Khurasan dan Esfahan, kemudian menamai diri mereka sebagai "Bathiniyah." Hasibunallah wa ni'mal wakil... Meskipun kezaliman seakan meninggi, namun pada akhirnya Allah akan menggerakkan hati hamba-hamba-Nya untuk bangkit dan melibas kezaliman itu. Di era itu, Kesultanan Turki Seljuk yang bangkit menjadi benteng keumatan. Rahimahumullah.